Selasa, 26 Juni 2012

Senin, 25 Juni 2012

Wanita Hamil Boleh Minum Alkohol, Asal...

http://i.okezone.com/content/2012/06/23/482/652354/FoufWHEwv2.jpgSAAT hamil, minuman beralkohol menjadi pantangan tersendiri untuk diasup. Namun, hal tersebut nyatanya bukanlah larangan yang tak bisa ditawar. Mengonsumsinya tanpa  berlebihan ternyata diperbolehkan.

Dalam sebuah penelitian di Denmark, wanita hamil yang minum alkohol satu gelas sehari tidak akan membahayakan perkembangan bayi di dalam rahim dan tidak mempengaruhi IQ anak ataupun fungsi otak serta fungsi-fungsi organ lainnya.

Namun, minum alkohol sembilan gelas atau lebih dalam seminggu dapat mempengaruhi konsentrasi anak ketika berusia lima tahun. Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan 1.628 wanita hamil rata-rata berusia 31 tahun, seperti dilansir Female First.

Meski demikian, tak berarti hal ini menjadi semacam lampu hijau untuk wanita hamil mengonsumsi alkohol secara berlebihan. Profesor Ulrik Kesmodel dari Aarhus University Hospital mengatakan bahwa minum alkohol secara terus-menerus dapat membahayakan janin. Kecanduan alkohol ketika hamil dikaitkan dengan Foetal Alcohol Spectrum Disorder pada anak-anak yang dapat menyebabkan terganggunya masalah fisik, mental dan perilaku. (ind)

okezone
selanjutnya klik disini

Artis Ini Mengaku Sudah Tidak Perawan Sejak Umur 14 Tahun !



Detikmaya- Artis cantik bertubuh seksi ini mengaku telah kehilangan keperawanannya sejak umur 14 tahun. Bahkan, artis yang sering mengumbar sensasi ini mengaku perawannya hilang atas izin dari sang ibu.

Dialah Kim Kardashian, artis seksi yang terkenal dengan bokong besarnya, yang mengaku sudah tidak perawan lagi sejak usianya masih 14 tahun. Bahkan, ibunda Kim, Kris Jenner mengizinkan putrinya untuk melakukan hubungan seks pertama kali di usianya yang masih sangat muda itu.

Hal ini diungkapkan oleh Kim Kardashian ketika menjalani sesi wawancara dengan Oprah Winfrey. Saat itu usianya masih 14 tahun, Kim menjalani hubungan selama dua tahun dengan pria yang dekat dengan keluarganya juga.

Dengan alasan pria yang dikencaninya sudah dekat dengan keluarga, Kim memutuskan untuk memberikan kehormatannya kepada pria itu. Kim lalu meminta izin kepada ibunya untuk melepas keperawanan bersama pria tersebut.

Di luar dugaan, sang ibu justru mengizinkan Kim berhubungan seks di usia 14 tahun. Kris Jenner tak mau menghalangi niat dan minat Kim yang penasaran terhadap seks. Anehnya lagi, Kris malah menyarankan kepada Kim Kardashian tentang kontrol kelahiran agar tidak hamil setelah berhubungan seks.(sumber)
selanjutnya klik disini

Tukang Sapu Jadi Presiden Zambia

Pemimpin oposisi Michael Sata (74) berhasil memenangi pemilihan presiden Zambia. Sata mengalahkan calon incumbent Rupiah Banda untuk memimpin negara penghasil tembaga terbesar di Afrika itu.

Michael Sata

Sata, politisi yang dijuluki "King Cobra" karena lidahnya yang tajam mendapat 1.150.045 suara atau 43 persen dari suara yang masuk. Dalam pemilu kali ini, dia menggunakan kendaraan politik Patriotic Front, melawan Partai Movement Multiparty Democracy yang dipimpin Banda.

Selama ini Sata dikenal sebagai politisi yang suka berbicara keras dalam menentang perusahaan pertambangan asing, terutama dari China. Namun, dalam kampanye yang berlangsung selama enam pekan, Sata menurunkan tensi kecamannya.

Begitu Ketua Mahkamah Agung Zambia Ernes Sakala mengumumkan kemenangan itu, para pendukung Sata pun turun ke jalan-jalan di ibu kota Lusaka. Mereka bernyanyi untuk merayakan kemenangan.

Sata, yang dilaporkan pernah menjadi tukang sapu di Stasiun Victoria, London, Inggris, itu pernah menjadi Gubernur Lusaka di masa pemerintahan presiden pertama Zambia, Kenneth Kaunda.

Perusahaan-perusahaan China merupakan pemain utama dalam perekonomian Zambia, dengan total investasi mencapai 2 miliar dollar AS pada akhir tahun 2010. Dalam awal masa kampanye, Sata menuduh perusahaan tambang China menciptakan "perbudakan" bagi rakyat Zambia karena tidak memperhatikan keselamatan pekerjanya.

Menurut para analis politik, dukungan kaum muda merupakan salah satu penyebab kemenangan Sata. Terinspirasi gerakan revolusi yang melanda Timur Tengah dan Afrika Utara, mereka mendatangi tempat-tempat pemungutan s
selanjutnya klik disini

Di balik senyum Pak Harto

Detikmaya- Sejak Semula tulis Romo Magnis, kekuasaan selalu berwajah dua: sekaligus mempesona dan menakutkan. Dan bisa jadi, kalau ini kata saya, ia berwajah sepuluh—layaknya dasamuka dalam Ramayana.
Saya kemudian teringat—tak kebetulan begitu saja, karena memang media sedang rame membahasnya lagi, seiring peluncuran buku tentangnya—Soeharto. Pada senyumnya dan lambain tangannya yang khas ketika tampil di TV hitam putih milik tetangga. 
Sosoknya bisa dipastikan muncul tiap hari, paling tidak di Dunia Dalam Berita. Saya takjub dengan wibawanya waktu itu. Dulu, dibenak saya—dan bisa jadi di benak ratusan juga anak Indonesia, walau saya yakin ada kekecualian terhadap anak-anak yang pernah menjadi korban kekuasaannya—Pak Harto adalah orang paling baik sedunia. 
Pahlawan. Dan memang begitulah imej yang dibangun melalui film-film propaganda: dari “Janur Kuning” sampai “Pengkhianatan G30S/PKI”. Apalagi di dunia nyata, ketika saya melihat ia menjawab masalah-masalah rakyat dalam acara “Kelompencapir”—kelompok pendengar, pembaca, dan pemirsa—di TVRI selalu saja ia jawab semua dengan baik-baik. Dengan senyum-senyum. Tuntas. Dan saya berpikir, selesai dari acara itu petani itu sejahteralah sudah hidupnya.
“Pak Harto, hebat!”

Tapi memang kekuasaan, seperti kata Romo Magnis, berwajah dua. Ada yang lain di balik senyum dan lambaian tangan bersahabat seorang Soeharto—dan anak usia di bawah 10-an seperti saya dulu, mestilah belum tahu itu. Tahun 80-an. Tiba-tiba saja di kampung kami para orang-orang jahat bertobat. Mereka rajin pergi bersembahyang, bahkan rela tidur di mesjid. Ujug-ujug. Bahkan sebagian dari mereka tidak bertato lagi, mereka hapus, dan berganti dengan kudis (mungkin dihilangkan dengan besi panas atau obat kimia apa).

Sas-sus atawa desas-desus yang saya dengar kemudian, dari nguping pembicaraan orang tua di kampung, banyak penjahat, bandit-bandit, bromocorah, gali, ditembak mati. Tak tahu siapa yang melakukan. Istilah penembakan misterius atawa penembak misterius atawa apa yang disingkat petrus menjadi populer dimana-mana. Petrus konon mengincar orang-orang bertato, dan wajar kemudian kenapa orang-orang bertato di kampung kami gentar, dan tanpa banyak cing-cong bertobat—menghilangkan tato—dan betah berlama-lama tinggal di mesjid.

Soal petrus pun, di kampung kami, orang tua pada senang semua. Di warung—sumber informasi utama saya waktu itu—orang-orang bersyukur, “dengan ada petrus kampung kita lebih aman, tak ada lagi maling ayam.” Akh, di jaman itu pula, siapa yang berani bersuara lain?

Pak Harto sendiri, dalam autobiographinya: Soeharto; Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, menuturkan: Kejadian itu, misterius juga tidak. Masalah sebenarnya adalah bahwa kejadian itu didahului oleh ketakutan yang dirasakan oleh rakyat. Ancaman yang datang dari orang-orang jahat, perampok, pembunuh, dan sebagainya terjadi. Ketentraman terganggu. Seolah-olah ketentraman di negeri ini sudah tidak ada. Yang ada seolah-olah rasa takut saja. 
Orang jahat itu telah bertindak melebihi perikemanusiaan. Mereka tidak hanya melanggar hukum, tetapi sudah bertindak melebihi batas perikemanusiaan. Umpamanya saja, orang tua sudah dirampas pelbagai miliknya, kemudian dibunuh. Itu ‘kan sudah di luar kemanusiaan. Kalau mengambil, ya mengambillah, tetapi jangan lantas membunuh. 
Kemudian ada perempuan yang diambil kekayaannya dan si isteri orang lain itu masih juga diperkosa oleh orang jahat itu, di depan suaminya lagi. Itu sudah keterlaluan! Apa hal itu mau didiamkan saja? Dengan sendirinya kita harus mengadakan treatment, tindakan yang tegas. Tindakan tegas bagaimana? Ya, harus dengan kekerasan. Tetapi kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan, dor! dor! begitu saja. Bukan! Tetapi yang melawan, ya, mau tidak mau harus ditembak. Karena melawan, maka mereka ditembak.


Lanjutnya lagi: Lalu ada mayat yang ditinggalkan begitu saja. Itu untuk shock theraphy, terapi goncangan. Supaya, orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya. Tindakan itu dilakukan supaya bisa menumpas semua kejahatan yang sudah melampui batas perikemanusiaan itu.

Ya, jelas peristiwa petrus atas restu Pak Harto. Terang ia bilang itu tidaklah misterius: memang ada skenario menembak mati para gali, bandit, bromocorah, dan begundal apalah namanya. Padahal sejatinya, tak ada satu alasan apa pun, tak ada satu kekuasaan apa pun, yang bisa mencabut nyawa seseorang yang dianggap bersalah tanpa proses peradilan (bahkan dengan proses peradilan pun masih lagi terjadi debat pendapat).

Dan di lapangan, kesaksian orang-orang, para bromocorah itu tidaklah ditembak karena melawan, tapi diculik oleh orang-orang yang biasanya mengendarai mobil sejenis jeep atau taft, ditangkap hidup-hidup, dibawa ke suatu tempat, dan pagi-pagi mayatnya (dengan tangan terikat) sudah tergeletak di wilayah publik: pasar, jalan, lapangan, dlsb. 
Entah Soeharto yang berbohong, atau pelaksanaan di lapangan yang salah. Tapi saya lebih cenderung yang pertama: siapa yang berani salah menjalankan perintah Sang Jenderal waktu itu?

Iwan Fals, penyanyi legendaris itu, yang vokal waktu itu, mengabadikan kesaksiannya atas peristiwa petrus dalam lagu Sugali. Salah satu liriknya menggambarkan bagaimana Sugali (seorang Bromocorah), yang kerap keluar-masuk bui ditembak: Oh bisik jangkrik di tengah malam, tenggelam dalam suara letusan, kata berita di mana mana, tentang Sugali tak tenang lagi dan lari sembunyi.
***
Ya, Romo Magnis benar. Kekuasaan berwajah dua. Dan inilah—salah satu dari sekian ratus bahkan ribu—daftar wajah buruk kekuasaan Soeharto waktu itu.

Sekarang mungkin ini menjadi catatan sejarah. Kita yang hidup sekarang, pasca-Soeharto, bisalah mendapat pelajaran darinya. Tidak boleh dilupakan begitu saja. Ia, Soeharto sendiri, kerap mengatakan—salah satu—falsafah hidupnya: mikul dhuwur, mendhem jero. 
Kalau mengangkat setinggi-tingginya, kalau memendam sedalam-dalamnya. Seseorang mestilah menjunjung tinggi pemimpinnya, dan memendam segala kesalahannya. Sejalan dengan itu, belajar dari kesalahan Soeharto, bukan berarti kita menjunjung kesalahan-kesalahannya, tapi bagaimana agar kita itu tak terulang lagi di masa sekarang.

Dan kalau benar-benar dipendam, mestilah kita tak belajar apa-apa darinya! (sumber)
selanjutnya klik disini

Terima Kasih Buat yang Klik Suka di Bawah Ini !!!